Sabtu, 08 Oktober 2011

LUANGKANLAH WAKTU JANGAN MENUNGGU WAKTU LUANG

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. Sahabat, terasa waktu berlalu dengan cepat, kadang tanpa terasa adzan ashar telah berkumandang, padahal perasaan baru saja menyelesaikan sholat dzuhur berjamaah di awal waktu. Iya, waktu memang berjalan cepat baik kita sadari maupun tanpa kita sadari.  Sepertinya baru kemarin melihat panitia kurban menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikannya, dan sepertinya baru beberapa bulan yang kita menyambut teman-teman kita kembali dari tanah suci. Tapi lihatlah, tak di sangka waktu berjalan cepat, terlihat tenda-tenda tempat penjualan hewan mulai bertumbuhan di pinggir-pinggir jalan. Barusan  teman-teman yang mendapat panggilan ke tanah suci sudah mulai pamitan untuk berangkat ke tanah suci. Hmm..waktu memang berjalan dengan cepat.


Aku coba melihat diriku..sampai saat ini belum banyak yang telah aku perbuat untuk membenahi diriku sendiri, keluarga, saudara, apalagi untuk agama ini..astaghfirullah. Mungkin aku termasuk orang-orang yang hanyut dalam kesibukan dunia. Mencoba membangkitkan semangat untuk memanfaatkan waktu untuk berbuat lebih baik kepada orang lain dan mempelajari agama ini serta mengamalkannya, sehingga apa yang dilakukan berdasarkan ilmu yang benar sesuai dengan perintahNya dan sunnah Rasulullah saw. 
Sepanjang hari belakangan aku mulai berpikir, waktuku sepertinya tak banyak, kalo aku menunggu luang kok sepertinya tidak kunjung tiba. Padahal waktu yang ada adalah milik kita sepenuhnya. Seperti petunjuk hikmah yang diberikanNya kepadaku dari ucapan Baltasar Gracián seorang penulis spanyol di era 1650an. Ucapannya aku coba kutipkan seperti ini 

“yang benar-benar kita miliki saat ini hanyalah waktu, bahkan orang yang tidak punya apa-apa pun memiliki waktu”

Kalau di baca dan diresapi, benar yang dikatakan Gracian. Waktu selalu ada untuk kita, masalahnya harus kita apakan waktu yang ada, harus kita manfaatkan untuk apa waktu kita. Dan sisi lain waktu terus berjalan tidak menghiraukan orang-orang yang mau atau tidak memanfaatkannya.


Akupun kembali bertekad untuk meluangkan waktu yang ada dan tidak menunggu waktuku luang. Walau kenyataannya? Waktu yang aku sisihkan sedikit itupun sering terlalaikan dengan begitu saja. Masih kalah penting dengan urusan lain yang lagi-lagi untuk mengurusi kepentingan dunia ini… astaghfirullah kembali terucap dalam hati memohon ampun. “Aku harus lebih membulatkan tekadku” pikirku lagi
Alhamdulilah..temuan tulisan di buku bacaan sedikit memberikan pencerahan, yaitu tulisan iman al Hasan-al Basri seorang ulama yang wafat 101H. Beliau mengatakan :

Di awal setiap hari, berkumandanglah seruan “ Wahai anak adam aku ini ciptaan baru dan saksi bagi perbuatanmu maka manfaatkanlah aku dengan baik karena bila aku melintas, aku tidak akan kembali sampai hari kebangkitan. tAku adalah waktu yang kau miliki.

Subhanallah..kesalahan telah terjadi dalam hidupku. Aku belum bisa memanfaatkan waktu yang ada. Lihatlah dan cermatilah!, kenapa teman-teman kita masih mempunyai waktu untuk belajar bahasa arab, menyempatkan diri untuk belajar baca Al Quran, menghapal surat-surat Al Quran, menyempatkan diri untuk ikut pengajian di berbagai tempat dan semua mereka lakukan dengan konsisten. Begitu juga yang di kantor, mereka bisa menyelesaikan tugas kantornya dengan cepat, bisa menyelesaikan pendidikan non formal sebagai pelengkap dengan menyisihkan waktu kerjanya dengan baik. Sedangkan aku? aku masih belum optimal memanfaatkan waktuku...lihat saja pelajaran bahasa arabku yang sudah 9 kali pertemuan, 4 pertemuan di antaranya terlewatkan olehku. Berapa masa hidupku untuk bisa berbuat baik kepada orang lain? Hmm akupun tidak bisa menjawab. Bagaimana aku bisa menciptakan “atsar”-kenangan mulia setelah aku mati nanti. Padahal umurku mungkin tak panjang. 


Ya Allah kuatkanlah tekadku, aku belum bisa istiqomah dijalanMu. Berikanlah kemudahan kepada hambaMu dan jangan Kau sempitkan hidupku. Semoga aku tidak termasuk orang yang melewatkan karuniaMu seperti yang pernah disampaikan Rasulullulah saw 

“Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw berkata “ada dua karunia yang dilewatkan banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu bebas untuk berbuat kebaikan” (HR Al Bukhari)

Wallahu a'lam.
Semoga ada hikmahnya.
cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam ukhwah fillah selalu ^_^
Baca Selengkapnya

KEPEPET

Diposting oleh Muhammad Zainuddin


ZAINOTES. Di sebuah kerajaan, seorang raja yang juga  seorang kesatria yang tangguh, mengadakan sayembara untuk mencari seorang kesatria yang pantas mendampingi putrinya. Sayembara sangatlah sederhana,
“Barang siapa yang berani menyebrangi kolam renangnya yang berjarak 20 meter saja maka akan menjadi seorang pemenang. Hadiah bagi pemenang adalah akan dipersuntingan dengan putri raja .” Siapa yang tidak mau dapat putri raja yang cantik?
Cukup hanya menyeberang kolam. Tunggu dulu…..,
ada pemberitahuan lainya.
Ternyata,
di kolam renang ada seekor buaya betina (kalau jantan mah namanya pakaya) yang sudah 1 tahun tidak diberi makan.
Siapa berani hanyo?!
Padalhal ribuan peserta sudah bersiap-siap di pinggir kolam untuk mendapatkan impianya.
Tapi mendadak nyali mereka ciut, setelah tau ada buaya yang ikut berenang. Asli, tak ada yang mau menggadaikan hidupnya meski di iming-imingi menjadi menantu raja, yang berarti bias menjadi raja juga kelak.

Sunyi sepi tak ada yang bergerak. Tiba-tiba terdengar bunyi “byuuurrr”!
semua langsung menatap kolam yang berkecipak.
Ada dua gerakan yang bergerak sama-sama cepat,
saling berkejaran, hingga munculah seorang pemuda dengan tampang menggigil dan nafas ngos-ngosan.
“Selamat! Anda menjadi pemenang.”
"Apa kiatnya menyebrangi kolam dengan buaya ganas di dalamnya?” Tanya sang raja.
Pemuda itu menatap sang raja dengan wajah keheranan, lalu menatap wajah hadirin dengan wajah memerah. Hoii! Siapa tadi yang mendorong saya masuk kolam?! Siapa?! Teriak lantang dengan galak.


Di dorong ke kolam, di paksa mengambil resiko, kepepet mempertahankan hidup yang mengekuarkan kemampuan super kita yang tersembunyi.
Tentu saja, siapa mau sich dijorokkan (dibeburkan) dan harus menggung resiko?
Namun dalam hidup, dijorokkan adalah suatu kiat/kebutuhan kita menuju sukses. Jika tidak, maka kita akan berjalan di tempat dalam zona nyaman kita saat ini. (tepok)

Wallahu a'lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dah teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam ukhwah fillah selalu ^_^

Baca Selengkapnya

BAHAGIAKANLAH DIRIMU....!!

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. Saya mengenali seorang wanita yang kerap menjalin hubungan istimewa bersama lelaki. Sebaik hubungan sedia ada menemui titik buntu, dia pasti mencari cinta yang baru. Hidup bersendirian bukanlah pilihan kerana baginya kesunyian bermakna tiada kebahagiaan. Dia sentiasa ingin menyintai dan dicintai, menyayangi dan disayangi.


Suatu ketika, dia bersama seorang lelaki yang dilihat sangat sesuai untuk dirinya. Cuma sayangnya, lelaki itu tidak memberikan sepenuh cinta yang didambakannya. Namun dia membiarkan saja perkara itu terjadi tanpa mau memutuskan ikatan yang terjalin.


Apabila ditanya, mengapa? Jawabannya, dia tidak punya pilihan lain, kerana dirinya bersendirian bukanlah sesuatu yang diinginkan. Bersendirian bagai suatu penanggungan yang amat memeritkan berbanding kurangnya kasih saying dari kekasih. Walau itu tidak sebagaimana yang diimpikan.

Sampai saatnya, hubungan itu menjadi bertambah buruk. Perpisahan terjadi juga. Ketika itu, dia bersedia menghadapi kemungkinan yang berlaku dan terpaksa juga hidup tanpa teman. Sungguhpun dia amat benci hidup sendiri, namun akhirnya dia kelihatan boleh menjalani saat-saat getir itu tanpa kekecewaan yang memusnahkan. Dia bagaikan baru sedar bahawa sebenarnya dia mampu hidup sendirian.


Sembilan bulan berlalu, sehinggalah dia menemui seorang lelaki yang amat baik budi. Kali ini, lelaki tersebut mau menjalin ikatan lebih serius dan tinggal bersamanya, dan itulah yang sering diharapkan dari semua kekasihnya sebelum ini. Akan tetapi, entah kenapa, kali ini dia menolak. Dia menyedari, terlalu banyak kebahagiaan yang dapat dinikmati walau hanya hidup bersendiri.

Kisah di atas adalah cerita benar yang diberitahukan oleh seorang wanita kepada Richard Templar, penulis buku The rules of love. Buku ini, buat kesekian kalinya merupakan hadiah dari suami yang saya kasihi.


Saya tertarik dengan kesimpulan Templar  yang pada  akhir pengkisahan wanita berkenaan. Menurut Templar, sungguhpun pada awalnya wanita itu bagaikan tenggelam dalam hubungan yang tidak kesampaian, namun dia hanya membiarkan dirinya lemas lantaran takut hidup bersendirian.

Akan tetapi, saat menyedari bahawa dia mampu hidup lebih gembira dan bahagia walau tanpa seseorang di sisi, dia mulai meletakkan standard yang jauh lebih tinggi.

Andai nantinya, dia hidup berpasangan, kehidupan itu harus lebih membahagiakan dan menyenangkan dibandingkan ketika dia bersendirian. Jika hidup berdua lebih menjamin seperti itu, barulah dia sanggup menggadaikan kehidupan bersendiriannya.

Seterusnya, Templar merumuskan, untuk beroleh bahagia seseorang itu perlu belajar untuk merasa bahagia dan gembira dengan dirinya sendiri, tanpa campur tangan pihak lain. Dengan itu, barulah seseorang itu dapat mengatasi dan menghadapi rasa takut apabila tiba saatnya dia ditinggalkan seorang diri.

SITUASI BERBEDA

Kisah dan rumusan dari Templar itu amat menguja dan membantu. Saya sebenarnya pernah menerima satu pesan di inbox dari seorang wanita yang menghadapi situasi berbeda dari kisah wanita di atas. Saya petik sebagian isi inbox dengan sedikit pengubahsuaian  tanpa mengubah maksud asal pengirimnya. Inti dari pesan tersebut adalah :

 Saya masih tidak faham kenapa seseorang perlu menikah.
Jujur saja, dari umur 13 tahun, saya telah membuat keputusan untuk tidak mau menikah. Tahun ini saya sudah berusia 25 tahun, dan orang yang paling tidak senang bersendirian ini ialah ibu saya.

Saya masih tidak percaya dengan sebuah ‘hubungan’( relationship ).
Saya pernah bertanya teman-teman, kenapa mereka sangat ingin menikah? Kebanyakan jawaban yang saya dapat, kerana menginginkan anak. Dan saya seperti tak percaya, apa? Sekadar itu? Kemudian, setelah itu, apa lagi ?


WHY we need to get marry?
Dua kisah berbeda dari dua wanita muda. Yang pertama tidak boleh hidup sendiri dan sentiasa mencoba untuk memiliki seseorang untuk mencurahkan kasih mesra, manakala yang kedua pula merasa cukup dengan bersendiri, tidak memerlukan seseorang untuk didampingi.

Seorang percaya bahawa bahagia hanya apabila ada seseorang untuk berbagi suka duka, manakala seorang lagi tidak percaya bahagia hanya bila ada perhubungan dan cinta.
Saya coba memahami arti bahagia dari perspektif kedua-duanya, dan di sinilah saya menemukan dua titik penting yang dapat saya ketengahkan dari kisah wanita di atas dan rumusan yang dibuat oleh penulis untuk membantu menjawab persoalan dari inbox yang saya terima.


APAKAH ITU BAHAGIA?
Berapa banyak manusia hari ini yang kelihatanya bahagia, namun realitinya mereka masih mencari-cari kebahagiaan yang hakiki.

Mereka mengandaikan kebahagiaan dapat diperoleh dengan menikahi wanita kerana parasnya yang cantik rupawan atau lelaki dengan wajah yang tampan, atau kerna harta yang melimpah ruah, keturunan yang baik-baik, yang punya pendidikan tinggi, pekerjaan yang cemerlang dan semisalnya, namun setelah bergelar suami isteri, terasa masih ada kekurangan.

Berapa banyak pula yang mengandaikan kebahagiaan akan terbit dari kehadiran anak yang ramai. Anak-anak yang sewaktu kecilnya, mulus, imut, menggemaskan dan menghiburkan. Akan tetapi, setelah dewasa, dengan berbagai masalah yang melanda, rasa bahagia semakin hilang dan sirna.

Ketika itu, mereka bagaikan tersadar, kecantikan dan ketampanan pasangan bukan lagi kebahagiaan. Harta yang melimpah bagaikan tiada gunanya, keturunan yang baik, pangkat dan pekerjaan yang cemerlang pun tidak menjamin rasa gembira. Dan ketika itu juga, mereka bagaikan tersadar, anak-anak yang ramai tidak semestinya boleh menjadi puncak tenang dan damai.

Semua itu tidak mencerminkan kebahagiaan !

Jiwa mulai merasakan resah dan gelisah. Duduk tak senang, berdiri tak tenang, makan tak kenyang, mandi tak basah, tidur tak lena. Pendek kata serba serbi rasa tak membahagiakan.


ARTI BAHAGIA
Justru itu, saya agak bersetuju dengan rumusan dari Templar tentang bahagia. Penilaiannya itu walau tidak sepenuhnya bertepatan dengan nilai agama, namun ia boleh diubahsuaikan untuk memenuhi kehendak dan ‘ruh’ dari didikan Islam, bahawa untuk mencapai kebahagiaan di dalam hidup, seseorang itu perlu terlebih dahulu bahagia dengan dirinya.

Namun, perlu diingat, bahagia dengan diri bukan bermakna kesenangan dan kegembiraan dikelilingi perkara-perkara berbentuk material dan kebendaan, akan tetapi bahagia dengan diri ialah tenang bahagia yang lahir dari rasa ‘bertuhan’.

Inilah peraturan cinta Islami.

Bahagia atas setiap perintah Allah. Gembira dengan menjauhi semua larangan-Nya. Baik susah atau senang, tawa atau tangis hiba, ketenangan dan kebahagiaan itu sentiasa mengiringi kerana keyakinan dan kefahamannya bahawa dirinya ‘ada’ DIA Yang Maha Mengasihi, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha segala-galanya untuk dia mengadu tentang nasib diri.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu ) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” ( Surah Ar Ra’du ayat 28 )

Inilah manfaat yang paling agung. Mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Mengenali Pencipta yang setiap perbuatan-Nya amat berbeda dari makhluk yang ada. Memahami setiap kebaikan dan keburukan yang diberi-Nya adalah ujian keimanan. Menginsafi betapa hikmah yang tersurat dan tersirat dari segala yang berlaku dalam hidupnya adalah di dalam pengetahuan dan kehendak Tuhan. Semua ini menjadi pendorong dan motivasi untuk dia tampil tenang. Inilah ‘rasa’ kebahagiaan yang kekal abadi.

Ringkasnya, ketenangan dan kebahagiaan yang diperolehi adalah hasil dari ingatan yang istiqomah kepada Allah ar Rahman.


MENIKAH UNTUK BERBAGI
Jika dari kisah wanita pertama, setelah menemui rasa bahagia dengan bersendirian, dia menolak hidup berpasangan, maka di dalam Islam, perkara sebaliknya pula yang dianjurkan.

Menikahlah untuk berbagi kebahagiaan.

Tujuan dari perkahwinan di dalam Islam, bukan semata-mata untuk menghalalkan kasih cinta si lelaki dan perempuan, atau untuk mendapatkan anak dan penyambung warisan keluarga. Tetapi lebih dari itu ia adalah manifestasi kesyukuran yang terbit dari kebahagiaan dan ketenangan diri untuk sama-sama dinikmati oleh orang lain sebagai pelaksanaan seruan Allah dan Rasul yang dicintai.

Menikah demi mengambil manfaat dari janji Allah SWT bahawa sakinah, mawaddah dan rahmah, semua itu tersedia di dalam sebuah ikatan yang sah.

Firman-Nya :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” ( Surah ar Rum ayat 21 )

Menikah juga sebagai mengikut satu jalan ( sunnah ) dari jalan-jalan yang dianjurkan oleh Rasul-Nya sebagaimana sabda Baginda yang bermaksud :

“Daripada Anas r.a, katanya telah bersabda nabi S.A.W bahawa menikah adalah sunnahku, barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”

Bila peraturan ini difahami sebaiknya, maka seorang wanita yang bahagia akan menjadi isteri yang membahagiakan suami dan anak-anaknya. Begitu juga, seorang lelaki yang bahagia, akan melebarkan kebahagiaan itu kepada isteri dan anaknya.

Keluarga yang bahagia melahirkan masyarakat yang bahagia. Masyarakat yang bahagia mewujudkan sebuah negara yang bahagia. Bahagia bernaungkan rahmat dan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Alangkah besar kesan yang lahir dari individu yang bahagia dengan dirinya! Maha Suci-Mu, Ya Allah !

BAHAGIAKAN DIRIMU…
Akhirnya, insafilah, bahawa insan yang disayangi, baik pasangan ( suami atau isteri ), anak-anak, saudara-saudara dan sanak kerabat, bukanlah puncak dan sumber bahagia. Mereka hanya lah salah satu jalan dari kebahagiaan di dunia.

Being alone is great, but being with them is even better! Begitu juga harta, pangkat dan kesenangan yang ada. Ambillah manfaat yang tersedia darinya tanpa melupakan akhirat yang lebih kekal di sana, sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” ( Surah Al-Qashas ayat 77 )

Ingatlah dua perkara ini : (1) Bahagiakan dirimu dan (2) Berbagilah rasa bahagia itu.

InsyaAllah, kebahagiaan dan ketenangan akan senatiasa memayungi, kerana bahagia sebenarnya adalah dari ‘jiwa kehambaan’ yang sejati.

Hidup bahagia bersama-Nya, walau tanpa atau bersama mereka yang tercinta.


Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam ukhwah fillah selalu ^_^
Baca Selengkapnya

Selasa, 04 Oktober 2011

CAWAN DAN KOPI

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. Sekelompok alumni sebuah perguruan tinggi terkemuka, yang telah mencapai kedudukan atau keberhasilan karir yang baik, bersilaturahim di rumah dosen pembimbing mereka dahulu, seorang profesor yang bersahaja. Mereka sangat terlena dengan perbincangan yang akrab dengan beragam topik.

Sampailah mereka ke dalam perbincangan topik ‘stress’. Sindrom tekanan hidup yang mereka alami, dikeluhkan berulang-ulang. Beberapa diantaranya, saling menguatkan keluhan itu, sehingga menambah kekecewaan dan rasa pesimis. Melihat perbincangan yang tidak sehat itu, sang professor tersenyum simpul dan meminta izin sebentar untuk ke dapur.

Sang professor bergabung kembali ke dalam ruangan dengan membawa nampan berisi beberapa jenis cangkir dan gelas serta sebuah teko berisi kopi hangat. Hal yang sangat tidak lazim adalah dibawanya cangkir dan gelas yang beragam itu. Ada yang diperbuat dari porcelain, plastik, kaca dan kristal. Ada yang kelihatan biasa dan ada pula yang kelihatan sangat mahal. Professor itu mempersilahkan mereka menuang sendiri kopi tersebut.

Setelah semua anak didiknya mengambil kopi masing-masing, professor itu berkata: “Mohon diperhatikan dengan teliti. Bukankah, semua cangkir dan gelas yang cantik dan mahal telah diambil, dan menyisakan cangkir dan gelas yang biasa dan kelihatan murah. Ini adalah keadaan yang sangat biasa, yaitu kita menginginkan yang terbaik dalam hidup. Tetapi, tidakkah Anda semua menyadari, bahwa terletak pada cara pandang inilah, semua masalah dan

‘stress’ yang menakutkan itu berpangkal.”


“Apa yang sebenarnya Anda perlukan adalah kopi, bukan wadahnya, tetapi Anda semua lebih memperhatikan dan lebih tertarik untuk memilih wadah tercantik.dan termahal. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah, Anda sibuk memperhatikan wadah yang telah diambil oleh orang lain.”

“Kehidupan adalah kopi. Jabatan, uang, dan kedudukan di dalam masyarakat adalah wadah tersebut. Wadah itu hanyalah alat untuk nenampung, dimana sesuatu yang akan ditampungnya adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan tidak berubah hanya karena alat tampungnya yang berubah.Kadangkala kita terlalu fokus kepada wadah yang kita pegang hingga kita gagal untuk menikmati kopinya. Dan yang lebih menyedihkan, Anda semua sibuk memperhatikan dan beriri hati atas wadah yang dipegang orang lain.”

“Nikmatilah kehidupan yang ada”

Karena kebahagiaan itu sederhana dan harus diputuskan sekarang. Maka berbahagialah. Smoga keikhlasan anda bekerja hari ini bukanlah semata untuk mencari Cangkir yang gemerlap
 
 Wallahu a'lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam ukhwah fillah selalu ^_^

Sumber: http://diosdias.wordpress.com/2007/02/20/cawan-dan-kopi/

Baca Selengkapnya

Kamis, 22 September 2011

KEMAUAN DAN KEYAKINAN

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. Bersyukurlah kalian atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kalian . Karena tidak setiap orang dapat merasakan nikmat memiliki kelengkapan tubuh seperti kalian . Namun ingatlah , besok , lusa atau satu detik dari sekarang Allah SWT dapat mencabut salah satu nikmat itu . Oleh karena itu , gunakanlah nikmat tersebut untuk hal – hal yang bermanfaat , tentunya untuk kebaikan terhadap sesama . Tapi , janganlah kalian berputus asa atas apa yang telah di berikan Allah SWT kepada kalian , karena yang pasti Allah maha tahu apa yang terbaik untuk kita . ?

Pada cerita kali ini saya terinspirasi dari saudara kita yang kurang beruntung , namun saya sangat kagum kepada mereka . Karena belum tentu kita yang sempurna ini dapat melakukan hal seperti apa yang mereka lakukan . Cobalah renungi sejenak , apabila satu hari saja kedua mata kita ini ditutup , begitu banyak hal yang mudah dilakukan akan terasa sangat sulit . Contohnya , Bagaimana kita bisa membaca jika kita tidak melihat tulisan ? Bagaimana kita bisa berjalan ke suatu tempat jika kita tidak bisa melihat jalan ? Dan masih banyak bagaimana – bagaimana lainnya jika saya jabarkan satu persatu yang biasa mudah kita lakukan akan terasa sulit . Dan cobalah renungkan sekali lagi , Jika kita tidak dapat melihat seumur hidup kita , apa yang akan kita lakukan ? Kebanyakan orang yang mengalami ini akan putus asa dan mengambil jalan pintas saja seperti bunuh diri . Naudzubillahiminzalik .

Namun saya sungguh kagum kepada saudara – saudara kita yang sejak lahir tidak dapat melihat indahnya dunia ini . Berbeda dengan kita , Kita yang di anugerahi kesempurnaan oleh Allah SWT , bisa melihat dan merasakan indahnya dunia ini . Kita bisa melihat Matahari , Bulan , Pantai , Danau , Gunung , Pohon – pohon yang menjulang tinggi , wajah yang tampan , wajah yang cantik , dan banyak sekali ciptaan – ciptaan Allah SWT yang takkan pernah habis jika kita berfikir . Tapi sangat disayangkan , nikmat yang Allah berikan kepada kita terkadang lebih banyak dilakukan untuk hal – hal yang tidak bermanfaat dan menjurus kemaksiatan . Namun disinilah Allah SWT memberikan nilai positif kepada saudara kita itu . Allah SWT tidak ingin jika orang – orang tersebut melihat hal – hal yang tidak bermanfaat dan akan di siksa di hari akhir nanti . Namun bukan hal itu yang akan saya sampaikan pada cerita saya kali ini .

Saudara kita itu sudah terbiasa berjalan kesuatu tempat tanpa harus tersesat dan dapat pulang kembali kerumahnya walaupun ia tidak melihat . Padahal banyak sekali hal – hal yang akan menghalanginya untuk dapat sampai ketempat tujuan . Seperti , jatuh ke suatu lubang , tersandung batu , membentur tembok , menabrak pagar , bahkan hal yang dapat mecelakan dirinya . Namun semua itu tidak menjadi halangan baginya . Mengapa demikian ? Kita bisa mengambil nilai positif dari cerita diatas .

Dalam hidup ini , kita selalu ditakutkan oleh sesuatu yang belum terjadi . Kita bisa mengibaratkan mimpi kita adalah tempat yang di tuju saudara kita . Dan rintangan yang akan menghalangi saudara kita untuk sampai ketempat tujuaannya adalah tantangan untuk mewujudkan mimpi kita . Kemauan untuk mewujudkan mimpi kita belum cukup jika tidak adanya keyakinan dalam mengarunginya . Adanya kemauan dari dalam diri adalah modal utama untuk mewujudkan mimpi kita . Kemauan dari dalam diri akan terwujud jika kita benar – benar menjalani dan merencanakannya dengan matang . Sehingga kita bisa dengan mudah mewujudkan mimpi kita . Sedangkan keyakinan adalah motivasi dari dalam diri kita bahwa kita akan menggapai mimpi kita .

Walaupun banyak sekali rintangan untuk mendapatkannya . Layaknya saudara kita tadi saat berjalan menuju suatu tempat , ia bisa saja tersesat , jatuh , bahkan mencelakakan dirinya . Namun walaupun begitu ia tetap yakin dan tegar , bahwa ia pasti dapat mencapai tempat tersebut . Begitu pula hidup ini , walaupun gagal ada di depan mata kita . Dengan keyakinan kita bisa meraih mimpi kita . Yakinlah Allah selalu bersama kita , Sehingga tidak ada rasa tiakut dalam diri kita . Yakinlah bahwa Allah akan menolong kita , dan akan mengulurkan tangan-Nya jika kita terjatuh .

Walaupun kita gagal menggapainya , ingatlah bahwa kita hanya terjatuh . Kita bisa bangkit kembali dan terus berjalan menuju mimpi kita . ?

Wallahu a'lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi
Salam ukhwah fillah selalu.

Oleh: Muhamad Irfan.
Baca Selengkapnya

JALAN MENUJU KESUKSESAN

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. Pada suatu kala, seorang pria sedang berjalan di sebuah tempat untuk mencari harta karun. Sampai akhirnya, tibalah ia di sebuah jalan bercabang tiga. Kebetulan ada orang tua yang sedang berdiri di pinggir persimpangan jalan tersebut.

Pria itu sedang bingung karena ada tiga jalan menuju arah yang berbeda. Ia pun sulit memutuskan mau memilih jalan yang ingin ditempuh. Lalu ia bertanya pada orang tua tersebut, “Hai, pak tua. Bolehkah saya bertanya? Saya sedang dalam perjalanan mencari harta karun. Tapi di depan saya ada tiga jalan yang berbeda. Bolehkah bapak menunjukkan kepada saya jalan yang benar?”

Orang tua itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk jalan yang pertama.

Pria itu berterima kasih dan segera mengambil jalan yang pertama.

Beberapa saat kemudian, pria yang tadi kembali lagi. Tapi kali ini seluruh badannya kotor terkena lumpur. Ia mendekati pak tua itu dan berkata, “Hai, pak tua. Tadi saya tanya arah ke tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan pertama. Tapi saya malah terjebak ke dalam kolam lumpur yang luas. Badan saya jadi kotor begini.” Ia lalu bertanya, “Sekarang di mana jalan menuju harta karun? Tolong tunjukkan pada saya!”

Orang tua itu tetap tidak bersuara. Ia kemudian menunjuk ke jalan yang ke dua.

Pria itu kemudian berterima kasih dan segera mengambil jalan yang kedua.

Beberapa saat kemudian, pria tersebut kembali lagi. Badannya bukan hanya terkena lumpur pekat, tapi juga celananya penuh dengan sobekan dan kakinya luka seperti tergores sesuatu.

Kali ini ia mendekati pria tua itu dengan ekspresi wajah yang kesal.Ia berkata dengan sedikit marah, “Hai, pak tua! Tadi saya menanyakan arah menuju tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan yang kedua. Tapi, jalan itu penuh dengan semak berduri. Seluruh kaki saya jadi terluka karena tergores duri.”

Kali ini ia bertanya lagi, “Sekarang saya tanya sekali lagi, di mana jalan menuju harta karun itu? Anda sudah dua kali membohongi dan mencelakai saya. Sekali lagi berbohong, Anda akan tahu akibatnya.”

Pria tua itu tetap diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sekarang menunjuk ke jalan yang ke tiga.

“Apakah Anda yakin dan tidak berbohong?” tanya pria itu.

Pria tua itu menganggukkan kepalanya dan sekali lagi menunjuk ke jalan yang ketiga.

Pria itu pun segera pergi meninggalkan pria tua tersebut. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali lagi sambil berlari seperti ketakutan. Dengan napas tersengal, ia bertanya dengan marah, “Hai, pak tua! Apakah Anda mau membunuh saya? Di jalan sana ada banyak sekali binatang buas. Itu sama saja dengan cari mati.”

Pria tua itu akhirnya buka mulut, berkata, “Semua jalan tadi sebenarnya bisa menuju ke tempat harta karun. Hanya saja untuk menuju ke sana, Anda harus melewati jalan tersebut. Anda bisa memilih melewati kolam lumpur, semak berduri, atau binatang buas. Anda bisa pilih salah satu. Kalau benar-benar mau pergi ke tempat harta karun, Anda harus berani melewati salah satunya. Jika Anda tidak mau, silakan kembali saja.”

Begitu mendegar penjelasan dari pria tua itu, ia menundukkan kepala. Ia mundur, membatalkan perjalanannya dan kembali pulang…

Pesan kepada pembaca:

Saya yakin semua orang dengan semangat akan menjawab “Ya” saat ditanya apakah mereka ingin meraih kesuksesan. Namun sebagian besar tidak berani menjawab saat ditanya apakah mereka bersedia membayar harganya. Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak sekali orang yang tidak bersedia menempuh jalan kesuksesan yang terlihat sangat berat. Mereka hanya ingin langsung sampai di garis finis, tapi tidak pernah mau melangkahkan kakinya untuk mencapai garis finis tersebut.

Salah satu tantangan berat yang harus Anda hadapi saat berjuang meraih kesuksesan adalah mendorong diri Anda untuk maju meskipun jalan yang sedang Anda tempuh sangat berat, berliku, dan penuh rintangan. Tantangan inilah yang seringkali membuat nyali seseorang menjadi ciut. Tantangan inilah yang akhirnya menyebabkan banyak orang tidak berani membayar harga dari sebuah kesuksesan. Mereka tidak siap untuk membayar dan lebih memilih melupakan kesuksesan yang ingin mereka raih.

Tidak peduli apa pun tujuan yang ingin Anda capai, rintangan tetap akan ada dan tidak akan hilang. Di mana ada kesuksesan, di situ ada rintangan yang menghalanginya. Hanya orang-orang sukses yang berani menghadapi rintangan demi rintangan sampai akhirnya meraih tujuan. Sebaliknya orang gagal lebih memilih untuk menyerah. Dan yang lebih menyedihkan, mereka bahkan tidak berani mencoba saat melihat betapa beratnya perjalanan yang harus dilalui. Mental mereka sudah dikalahkan jauh sebelum mereka memulai.

Rintangan akan selalu berdiri di depan kesuksesan. Anda harus berani melewatinya sebelum berhasil mendapatkan kesuksesan. Ada dua pilihan, mengeluh dan menyalahkan rintangan itu atau mendorong diri Anda untuk mengalahkan rintangan tersebut. Anda boleh menyalahkan rintangan yang kelihatannya selalu menghadang Anda. Tapi cobalah pikirkan, apakah rintangan itu akan hilang dengan cara menumpahkan kekesalan Anda?

Wallahu a'lam.
Semoga ada hikmahnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi
Salam ukhwah fillah selalu.

Oleh: Suhardi.
Baca Selengkapnya

BERBAKTILAH SELAGI MASIH ADA

Diposting oleh Muhammad Zainuddin

ZAINOTES. 20 tahun lalu, Ibu sedang sakit payah. Sekejap lagi, sebelum azan asar berkumandang, ibu memanggil emaknya, berpesan agar emaknya dan ayah menolong menjaga anak-anaknya yang sedang tidur di depan mata. Selesai ibu minta ampun dari mak, berkirim salam untuk suami tercinta, ibu letakkan kedua tangannya di atas perut, lalu mengucapkan kalimah syahadah sebelum menutup mata buat selama-lamanya dengan kepergian yang diiringi azan.
***

Kau beritahu aku kenapa aku tak boleh merinduinya sedangkan malam itu aku melihat sendiri ibu terbujur kaku, diyasinkan, dimandikan, dikafankan, disholatkan, dan ditanamkan keesokan harinya dengan iringan tangisan?


Abang yang sungguh-sungguh maukan kafan ibu dibuka supaya ibu akan bangun dan hidup lagi, mengampunkan dosa-dosanya, berjanji taat dan tidak melawan kata-kata ibu dan akan menolong ibu mencuci piring, menjemur pakaian dan menjaga adik-adik setiap kali pulang dari sekolah. Aku tak terfikir ibu tak akan kembali. Benar aku tahu ibu sudah mati, tetapi apalah yang mampu aku panjangkan lagi fikiran ini sebagai kanak-kanak perempuan 5 tahun ketika itu?

Hanya setelah menginjak ke alam remaja baru aku sadar ibu memang sudah tidak ada lagi dalam dunia ini untuk diajak bersama bersuka ria mendapat kelulusan dalam ujian, sakit perih hidup sendiri tanpa bimbingan dan perhatian dan limpahan kasih ibu tersayang. Tapi tangisan ini sudah sangat terlewat. Ibu sudah pergi. Ibu tak akan kembali lagi ke dunia ini. Dan entah bila kami sekeluarga akan berjumpa, memang aku sadar impian ini selama-lamanya tak akan pernah berlaku.

Ya Allah, Kau ampunkanlah dosa ibuku. Cinta mendalam terhadap bunda hanya bisa dimengertikan dalam jiwa insan setelah dia dipanggilNya..lara hati usah dibicara, do’a untuknya harus senantiasa dilidah agar bunda tersenyum dikamar abadi merasakan betapa kasih anak-anak terhadapnya meskipun telah pergi…
***

Selagi Ibu ada… jangan sia-siakan masa yang ada. Karena menangis di pintu kubur adalah masa yang telah terlewat.

Wallahu a'lam.
Semoga ada manfaatnya.
Cari dan teruslah mencari cinta Ilahi.
Salam ukhwah fillah selalu.

Sumber: Mutiara Amaly
Baca Selengkapnya